Meningkatkan Kemampuan Sosial Emosional Anak Melalui Kegiatan Bermain Peran di TK Plus Tunas Rimba Purwakarta.

Antusias anak - anak bermain peran di TK Plus Tunas Rimba Purwakarta – Jawa Barat

RadarJateng.com, Pendidikan Setiap anak memiliki keunikan dalam setiap perkembangannya. Perkembangan anak harus dilihat, diperhatikan, dan diamati secara seksama mulai dari usia pranal yaitu nol tahun hingga usia 6 tahun sesuai dengan undang-undang undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Masa ini disebut masa keemasan atau zaman keemasan. Golden age atau usia emas sangat sensitif dalam tumbuh kembang anak. Sumantri, anak usia dini berada pada masa lima tahun pertama yang disebut The Golden Age. Pada usia ini, anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan otak yang sangat cepat. Otak anak akan berkembang sangat pesat dan optimal pada usia 0 – 5 tahun, sehingga anak akan cepat menyerap informasi baru.

Perkembangan otak sangat mempengaruhi perubahan emosi, kepribadian, perilaku, pemikiran dan kata-kata ketika mereka mulai memahami dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar mereka. Orangtua harus bekerja keras dalam membimbing anaknya pada usia dini ini dengan penuh kesabaran dan ketelatenan demi mencapai hasil yang optimal dalam tumbuh kembang anaknya. Kesungguhan orang tua dalam mendidik dan membimbing anaknya secara optimal di usia emas ini membentuk anak menjadi percaya diri, mandiri, berintelektual, berakhlak baik, bersemangat, bahagia dan tangguh serta menjadi tolok ukur bagi masa depan

Perkembangan sosial emosional merupakan salah satu aspek perkembangan yang sangat penting dalam stimulasi sejak dini pada anak. Jika tidak berkembang, aspek ini akan berpengaruh pada aspek perkembangan lainnya. Oleh karena itu, penting bagi guru dan orang tua untuk menstimulasi aspek ini secara tepat. Perkembangan sosial emosional anak merupakan proses di mana anak-anak belajar mengenai diri mereka sendiri, hubungan dengan orang lain, serta cara mengelola dan bereaksi terhadap perasaan dan emosi mereka. Ini adalah bagian penting dari perkembangan holistik anak, yang melibatkan interaksi kompleks antara aspek sosial dan emosional, (Age & Hamzanwadi, 2020)

Read More

Aspek-aspek utama dari perkembangan sosial emosional anak meliputi: 1) Keterampilan Sosial: Anak-anak belajar berinteraksi dengan orang lain, mulai dari berbagi mainan hingga berkomunikasi dengan teman sebaya dan orang dewasa. Keterampilan-keterampilan tersebut seperti berempati, berkomunikasi efektif mengembangkan, dan memahami norma-norma sosial. 2) Keterampilan Emosional: Anak-anak mulai mengenali dan memahami berbagai emosi seperti senang, sedih, marah, dan takut. Mereka juga belajar mengelola dan mengungkapkan emosi mereka dengan cara yang tepat dan sehat. 3) Pengembangan Hubungan: Anak-anak mulai membentuk hubungan dengan anggota keluarga, teman sebaya, dan guru. Ini melibatkan belajar tentang persahabatan, kepercayaan, dan kerjasama. 4) Pembelajaran Konflik dan Penyelesaian Masalah: Anak-anak menghadapi konflik dalam interaksi mereka dengan orang lain. Mereka belajar bagaimana menyelesaikan masalah, mengatasi ketidaksepakatan, dan memahami berbagai sudut pandang.

Metode bermain peran adalah pendekatan pembelajaran di mana anak-anak atau peserta dibesarkan memerankan peran atau karakter tertentu dalam situasi yang disimulasikan. Dalam metode ini, peserta didik mengambil peran yang berbeda-beda dan terlibat dalam interaksi sosial yang memungkinkan mereka melakukan skenario tertentu, memecahkan masalah, dan bereaksi terhadap situasi yang dihadapi, (Samsudin, 2010)

Metode bermain peran memiliki beberapa komponen penting: 1) Peran dan Karakter: Peserta dilatih mengambil peran atau karakter tertentu dalam situasi yang telah ditentukan. Ini bisa menjadi karakter nyata atau fiktif. 2) Skenario atau Situasi: Skenario atau situasi yang disimulasikan dapat bervariasi, dari situasi sehari-hari hingga situasi yang lebih kompleks atau fiktif. Skenario ini menentukan konteks dan tujuan bermain peran. 3) Interaksi Sosial: Peserta didik berinteraksi satu sama lain dalam peran yang diambil, seperti berkomunikasi, bekerja sama, atau mengatasi konflik. 4) Pengembangan Keterampilan: Melalui bermain peran, peserta didik mengembangkan keterampilan sosial, emosional, kognitif, dan bahasa. Mereka belajar tentang perspektif orang lain, berpikir kritis, dan mengatasi masalah. 5) Pengalaman Praktis: Metode ini memberikan pengalaman praktis yang dapat membantu peserta didik memahami konsep, nilai, dan situasi yang kompleks. 6) Penghayatan Emosional: Bermain peran memungkinkan peserta didik merasakan dan memahami perasaan dan emosi yang mungkin dialami dalam situasi tersebut

Metode bermain peran sering digunakan dalam pendidikan untuk meningkatkan partisipasi, pembelajaran aktif, dan pengembangan keterampilan sosial dan emosional. Ini juga membantu peserta didik mengalami pembelajaran dalam konteks yang lebih mendalam dan praktis, (Husnah & Hasanah, 2019). Melalui bermain peran, anak-anak dapat mengembangkan berbagai aspek, termasuk emosional, sosial, mental, intelektual, moral agama, dan fisik. Dalam proses bermain peran, anak-anak tidak hanya diajak untuk berbicara, tetapi juga untuk mengungkapkan gagasan melalui gerakan tubuh mereka, (Inten, 2017).

Penulis, Eka Purwatiningsih, S.Pd Guru TK Plus Tunas Rimba Purwakarta – Jawa Barat.

Related posts