Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak Melalui Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Pada Anak Usia 5-6 Tahun.

TK Angkasa, Kec. Blang Bintang Kab. Aceh Besar

RadarJateng.com, Pendidikan Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Potensi yang dimiliki antara lain adalah kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Gardner dalam Armstrong (2013:6); menyatakan bahwa kecerdasan lebih berkaitan dengan kapasitas/kemampuan untuk: (1) memecahkan masalah-masalah, (2) menciptakan produk-produk dan karya-karya dalam sebuah konteks yang kaya serta keadaan yang naturalistik. Gardner menyediakan sarana untuk memetakan berbagai kemampuan yang dimiliki manusia, dengan mengelompokkan kemampuan-kemampuan mereka ke dalam delapan kategori yang komperhensif atau kecerdasan berikut ini: kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetiktubuh, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis. Kedelapan kecerdasan tersebut perlu dikembangkan secara maksimal sesuai dengan potensi dan bakat yang ada pada anak, termasuk didalamnya kecerdasan visual-spasial.

Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak Melalui Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Pada Anak Usia 5-6 Tahun

Menurut Suyadi (2009:175); kecerdasan visual spasial adalah kemampuan untuk melihat suatu objek dengan sangat detail. Kemudian, anak mampu merekam apa yang anak lihat tersebut dalam memori otaknya dalam jangka waktu yang sangat lama. Selain itu, jika suatu saat anak ingin menjelaskan apa yang dilihatnya tersebut kepada orang lain, anak mampu melukiskannya dalam selembar kertas dengan sangat sempurna.

Read More

Menurut Gardner dalam Musfiroh (2008:4.4); komponen inti dari kecerdasan visual spasial adalah kepekaan pada garis, warna, bentuk, ruang, keseimbangan, bayangan, harmoni, pola, dan hubungan antar unsur tersebut. Komponen lainnya adalah kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual dan spasial, dan mengorientasikan diri secara tepat. Komponen inti dari kecerdasan visual spasial benar-benar bertumpu pada ketajaman melihat dan ketelitian pengamatan. Untuk mengembangkan kecerdasan anak lebih efektif dan efisien pada usia dini karena salah satu indikator perkembangan kecerdasan visual spasial pada usia 5-6 tahun yaitu mampu melihat bangun geometri.

Meningkatkan Kecerdasan Visual-Spasial Anak Melalui Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Pada Anak Usia 5-6 Tahun

Menurut Gardner dalam Musfiroh (2008:4.27); Beberapa guru pendidikan anak usia dini masih belum memahami dan menganggap proses belajar anak dalam memahami geometri. Geometri dipahami hanya sebagai usaha yang penting untuk mengembangkan kecerdasan visual spasial, karena banyak yang beranggapan bahwa anak yang pintar itu adalah anak yang baik dalam segi akademis saja. Kecerdasan visual-spasial ini sangat penting untuk dikembangkan sehingga kita semua terutama para guru dituntut untuk memberikan perhatian yang lebih dari cukup agar kecerdasan visual- spasial diajarkan dengan sungguh-sungguh. Seorang guru dituntut untuk menggunakan pendekatan yang melibatkan siswa dalam belajar yang dapat mengaktifkan interaksi antara siswa dan guru, siswa dan siswa, serta siswa dan bahan pelajarannya. Dengan demikian, pembelajaran diarahkan pada aktivitas aktif siswa untuk menjadi terampil dalam menemukan sendiri konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam matematika. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mendukung proses tersebut adalah pendekatan matematika realistik. Pembelajaran matematika realistik dimana pembelajaran menjadikan maematika sebagai aktivitas siswa.  Pendekatan pembelajaran realistik tersebut, siswa tidak harus dibawa ke dunia nyata, tetapi berhubungan dengan masalah situasi nyata yang ada dalam pikiran siswa. Jadi siswa diajak berpikir sebagaimana menyelesaikan masalah yang mungkin dan sering di alami dalam kesehariannya.

Penulis : Nilawati, S.Pd Guru  TK Angkasa, Kec. Blang Bintang Kab. Aceh Besar

Related posts