Upaya Peningkatan Kemampuan Mengenal dan memahami konsep Bilangan Melalui Permainan Bowling Angka pada Anak Kelompok B TK ISLAM ADDASUQI Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo.

Permainan Bowling Angka pada Anak Kelompok B TK ISLAM ADDASUQI, Probolinggo - Jawa Timur

RadarJateng.com, Pendidikan Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan mengenal bilangan melalui permainan bowling pada anak dan mendiskripsikan implementasi penerapan permainan bowling dalam meningkatkan kemampuan mengenal bilangan. Penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas Esperimetal selama dua siklus, dalam tiga tahap, yaitu perencanaan; penerapan tindakan dan observasi; dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok B1 TK ISLAM ADDASUQI pada semester I tahun ajaran 2022/2023 dengan jumlah 15 anak yang memiliki kemampuan mengenal bilangan yang rendah dan masih aktif sekolah. Hasil penelitian ini adalah penerapan permainan bowling dapat meningkatkan kemampuan mengenal bilangan anak kelompok B TK ISLAM ADDASUQI Liprak kulon kecamatan Banyuanyar dengan hasil nilai rata-rata tes diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes sebelum Tindakan.

Kata Kunci: Kemampuan mengenal bilangan, Anak Usia Dini, permainan bowling

Pendahuluan

Read More

Pada masa perkembangan yang pesat ini guru atau orang tua harus memanfaatkan pemberian pengetahuan yang sederhana dan mudah diterima anak dan bermanfaat pada kelangsungan kehidupan mereka selanjutnya namun juga harus menyesuaikan dengan tahapan perkembangan.

Salah satu pengetahuan yang sangat penting diberikan pada anak usia dini adalah pengenalan matematika yaitu kemampuan mengenal bilangan. Studi yang dilakukan oleh Ramscar, Dye, dan Popick (2011: 1) menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan berhitung orang dewasa dipengaruhi rendahnya kemampuan mengenal konsep bilangan pada masa kanak-kanak. Mereka menjelaskan lebih lanjut bahwa cara penyampaian pembelajaran yang salah menjadi faktor utama anak-anak kesulitan memahami konsep matematika.

Observasi dan wawancara yang dilakukan pada anak menunjukkan kemampuan anak dalam mengenal bilangan rendah. Ketika diminta menyebutkan jumlah jari yang ditunjukkan oleh peneliti mereka banyak melakukan kesalahan, Dan saat anak diminta untuk menulis angka dua terbalik menjadi angka 5. Dari hasil wawancara terhadap guru yaitu penyampaian pembelajaran pengenalan bilangan menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas.

Cara penyampaian yang kurang menarik dan monoton akan membuat anak cepat bosan dan malas untuk belajar bilangan. Akibatnya anak mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika pada jenjang pendidikan selanjutnya, bahkan anak akan kesulitan berhitung dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-harinya.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Work (2002) dan Sami (2005) menunjukkan bahwa fokus dari penanaman pengalaman dan konsep dalam kemampuan matematika anak menggunakan permainan yang edukatif dan proses bermain yang menyenangkan dapat menimbulkan interaksi antara anak dengan lingkungan mereka untuk menggali konsep- konsep matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari harinya. Salah satu permainan yang diterapkan untuk menanamkan kemampuan mengenal bilangan adalah permainan bowling.

Penelitian ini akan menjawab apakah permainan bowling dapat meningkatkan kemampuan mengenal bilangan pada anak kelompok B dan bagaimanakah implementasi penerapan permainan bowling dalam meningkatkan kemampuan mengenal bilangan pada anak kelompok B TK ISLAM ADDASUQI Tahun Ajaran 2022/2023. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjawab rumusan masalah dan hasilnya mempunyai sumbangsih terhadap perkembangan anak usia dini.

Kajian Pustaka

Bermain adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan, tanpa paksaan, menyenangkan dan tanpa memikirkan hasil akhir serta merupakan kebutuhan bagi anak karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk bermain selain itu melalui bermainlah anak belajar berbagai hal dalam kehidupannya. Bermain memiliki arti yang penting bagi anak, seperti yang dijelaskan oleh Musfiroh (2005: 3) bahwa bermain membantu anak memahami konsep dan pengetahuan yang ada dalam lingkungannya. Salah satu permainan yang dapat diterapkan adalah permainan bowling.

Permainan Bowling merupakan salah satu olahraga dengan partisipan banyak. Tidak mengenal batasan umur, siapa saja bisa menikmati, anak-anak, remaja, dewasa bahkan para lanjut usia. Bowling merupakan olahraga yang digemari di hampir setiap negara di dunia. Dari perkembanganya permainan ini dapat dimainkan sesuai dengan kebutuhan dan menggunakan peralatan yang dapat dibuat sendiri dengan sederhana.

Kayvan (2009: 62) bahwa melalui permainan bowling anak-anak dapat belajar untuk mengkoordiinasikan mata dan tangan, mengukur dengan teliti berapa banyak tenaga yang diperlukan untuk menjatuhkan semua biji bowling. Anak usia dini juga dapat belajar menghitung berapa biji bowling yang jatuh. Selanjutnya dari permainan ini anak akan belajar banyak sekitar pengenalan angka, selain itu ketika anak diminta untuk menyusun kembali biji bowling secara berurutan maka anak telah belajar tentang urutan dan susunan angka-angka.

Permainan bowling dapat divariasikan sesuai dengan tujuan pengenalan bilangan yang ingin dicapai. Untuk mengenalkan dan menanamkan kepada anak urutan bilangan secara benar. Anak diminta untuk melempar bola mengarah pada biji bowling agar berjatuhan. Kemudian anak diminta mengambil bilangan yang sama dengan bilangan yang ditempel pada biji bowling yang telah jatuh secara urut. Untuk mengenalkan lambang bilangan dengan nama 3 bilangan menggunakan huruf. Pada biji bowling ditempeli nama bilangan menggunakan huruf misalnya “satu”, “dua”, “tiga”, dan seterusnya kemudian anak diminta mengambil lambang bilangannya sesuai dengan nama pada biji bowling yang dijatuhkan anak secara berurutan. Untuk mengenalkan lambang bilangan dengan jumlah benda yang diwakili. Pada biji bowling ditempeli bilangan 1-10, kemudian anak melempar bola untuk menjatuhkan biji bowling. Lalu anak mengambil benda yang telah disediakan guru sesuai dengan bilangan pada biji bowling yang dijatuhkan secara berurutan.

Brown and Murphy (2000: 67) dalam risetnya mengemukakan bahwa konsep-konsep yang bisa dipahami anak-anak usia tiga, empat, dan lima tahun adalah konsep-konsep yang berhubungan dengan bilangan, geometri, pengukuran, dan probabilitas dan membuat grafik. Anak pada usia tersebut akan belajar nama-nama bilangan namun anak belum mampu menilai lambang bilangannya. Mereka belum sepenuhnya mengerti tentang konsep yang mereka istilahkan “satu” mewakili konsep dari sebuah benda yang berjumlah satu buah, dan “dua” mewakili konsep dari kuantitas benda yang berjumlah dua buah dan seterusnya. Sehingga guru harus selalu membantu anak mengungkapkan secara berulang-ulang berhitung bilangan sehingga anak akan mempelajari nama-nama bilangan dan urutan dari bilangan tersebut.

Pengenalan bilangan pada anak usai dini harus berdasarkan pada tahap perkembangan dan pengalaman anak. Anak usia dini belajar melalui kegiatan bermain yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari anak. Salah satu cara mengenalkan bilangan pada anak anak usia dini adalah dengan melalui permaian bowling. Dalam setiap pelaksanaan kegiatan pembelajaran seorang guru haruslah memperhaikan perecanaan secara matang.

Keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan kognitif saja, tetapi perkembangan seluruh aspek termasuk aspek afektif dan psikomotor. Dengan demikian tahap penilaian pada permainan bowling tidak saja hanya dalam observasi, juga dalam bentuk tes dan wawancara untuk mengetahui perkembangan belajar yang dilakukan anak.

Beberapa karakteristik perkembangan kognitif anak usia 4-5 tahun berdasarkan teori teori yang dikemukakan oleh para ahli dan tugas perkembangan pada masa prasekolah antara lain:

  1. Memahami konsep makna berlawanan, misalnya kosong-penuh atau banyak sedikit;
  2. Mampu mengelompokkan benda berdasarkan warna, bentuk dan ukuran;
  3. Menceritakan kembali buku cerita bergambar dengan tingkat ketepatan yang memadai;
  4. Paham mengenai konsep arah
  5. Mampu menujukkan konsep sebab-akibat yang sederhana
  6. Memasangkan dan menyebutkan benda yang sama atau berdasarkan pasangannya

Dalam hubungannya dengan perkembangan kognitif dan kemampuan belajar mengenal bilangan dalam pengenalan matematika anak usia kelompok B, kemampuan yang dapat dikembangkan adalah:

  1. kemampuan dalam mengenali atau membilang angka secara tepat sesuai dengan simbol angka maupun kata yang menggambarkannya.
  2. Kemampuan menyebutkan urutan bilangan secara urut, walaupun dimulai dari angka acak namun anak harus mampu menyebutkan urutan bilangan selanjutnya.
  3. kemampuan dalam menghitung benda dan memberi nilai angka pada suatu himpunan

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada anak kelompok B TK ISLAM ADDASUQI Liprak Kulon , yang beralamatkan di Jl. YPP ADDASUQI, Desa Liprak Kulon, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo tahun pelajaran 2022/2023 dengan subjek penelitian adalah anak kelompok B1 TK ISLAM ADDASUQI Dengan jumlah 15 anak yang memiliki kemampuan mengenal bilangan yang rendah dan masih aktif sekolah.

Jenis penelitian ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Eksperimen, yang bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat dan seberapa besar tingkat perubahan antara 2 variabel penelitian (Santosa, 2011: 33; Paizaluddin & Ermalinda, 2011: 29) yaitu kemampuan mengenal bilangan anak dengan penerapan permainan bowling dengan membandingkan dampak tindakan dari pra-siklus, siklus I, siklus II dan selanjutnya menggunakan analisis uji beda >2 kali pengukuran (repeated measures).

Data dalam penelitian diperoleh dari data kuantitatif meliputi data hasil tes kemampuan mengenal bilangan dari data primer yaitu anak kelompok B. Data kualitatif yaitu data hasil wawancara sebelum dan sesudah pelaksaan tindakan, dan perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dari sumber data sekunder dengan teknik pengumpulan data wawancara kepada guru sebelum dan setelah tindakan, observasi secara langsung terhadap anak dan guru kelas pada saat tindakan, tes LKA sebelum dan setelah tidakan, dan dokumentasi. Model dalam analisis data ini terdiri dari tiga alur kegiatan yaitu reduksi data, prnyajian data, penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berdasarkan hasil wawancara terhadap guru kelas sebelum pelaksanaan tindakan dan hasil observasi pembelajaran pengenalan bilangan menunjukkan bahwa kemampuan mengenal bilangan anak masih rendah. Hasil tes pra-siklus juga menunjukkan anak yang telah tuntas sebanyak 10 anak dengan persentase ketuntasan 47,61% dari jumlah keseluruhan anak dalam kelas berjumlah 15 anak. Dari hasil persentase nilai hasil tes awal kemampuan mengenal bilangan pada anak kelompok B TK ISLAM ADDASUQI Liprak Kulon peneliti berkolaborasi dengan guru kelas untuk melaksanakan tindak lanjut dalam peningkatan kemampuan mengenal bilangan yaitu dengan menggunakan permainan bowling

Penerapan permainan bowling pada anak kelompok B TK ISLAM ADDASUQI dimulai dengan mengadakan observasi proses pembelajaran anak, wawancara terhadap guru kelas perkembangan kognitif anak dalam mengenal bilangan dan tes pra-siklus untuk secara mendapatkan nilai kemampuan anak dalam mengenal bilangan.

Peneliti melakukan kolaborasi dengan guru kelas dalam pelakasanaan pembelajaran menggunakan permainan bowling. Peneliti bertugas sebagai guru dalam kegiata inti penerapan permainan bowling, sedangkan guru kelas bertugas dalam kegiatan pembukaan, kegiata inti, dan penutup. Peneliti juga memiliki asisten penelitian yang bertugas menilai jalannya proses pembelajaran.

Pada pelaksaan siklus I, dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan dengan rincian 2 kali pertemuan untuk melaksanakan penerapan permainan bowling dan 2 kali pertemuan pemberian tes akhir siklus untuk mengetahui perubahan yang terjadi. Siklus pertama menunjukkan keaktifan anak dalam pembelajaran baik dilihat dari keinginan anak untuk ikut serta dalam permainan bowling yang cukup baik.

Pelaksanaan siklus II dimulai dengan perencanaan ulang dilihat dari kekurangan siklus I sehingga pembelajaran permainan bowling pada siklus II mengalami perubahan yang baik. Siklus II juga dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan yang terbagi dari 2 pertemuan digunakan untuk penerapan pembelajaran menggunakan permainan bowling dan 2 pertemuan untuk pelaksanaan tes akhir siklus II. Dari hasil pelaksanaan tindakan dan hasil analisis uji hipotesis terlihat bahwa terdapat perbedaan hasil penerapan permainan bowling dalam pembelajaran pengenalan bilangan. Hal tersebut ditunjukkan pada uji repeated measure diperoleh rata-rata untuk 15 responden setelah mendapatkan tindakan lebih besar dibandingkan dengan sebelum mendapatkan tindakan. Hasil tersebut mendukung dari penelitian-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Goldhoder (1997), Khalil (2000), Sami (2005) dan Work (2002) yang menyatakan bahwa perbedaan kualitas pembelajaran tercermin dari hasil belajar anak sebelum tindakan dan setelah tindakan dilakukan.

Maka dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan permainan bowling dapat meningkatkan kemampuan mengenal bilangan pada anak kelompok B TK ISLAM ADDASUQI Liprak Kulon.

Kelebihan Permainan Bowling Angka

Menurut Ardha Arief (Isnaini Sholihah, 2014:33) kelebihan permainan bowling adalah :

  1. Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan karena anak seperti bermain dengan melempar atau menggelinding bola ke arah pin bola.
  2. Anak mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir karena diberikan kesempatan dalam memecahkan soal
  3. Anak terlibat aktif dalam pembelajaran
  4. Ketiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dapat Kelebihan : Permainan dikemas secara menyenangkan sehingga anak akan ikut serta dengan rasa sukarela dan, Permainan bowling adaptif dapat digunakan sebagai terapi bagi anak cerebral palsy, baik terapi bagi fisik maupun secara psikologis. Permainan bowling adaptif akan mendorong kemampuan menalar atau berfikir anak sehingga anak belajar untuk memecahkan masalah.

Penutup

Permainan merupakan metode pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan anak. Penerapan permainan bowling dapat meningkatkan kemampuan mengenal bilangan anak kelompok B TK ISLAM ADDASUQI Liprak Kulon dengan adanya perbedaan yang signifikan pada hasil tes kemampuan mengenal bilangan pada anak kelompok B TK ISLAM ADDASUQI Liprak Kulon pada pra-siklus, siklus I, dan siklus II.

Permainan bowling membuat anak lebih aktif dan antusias untuk ikut serta dalam pembelajaran mengenal bilangan. Anak juga tertarik untuk mengerjakan tugas yang diberikan secara tertib hingga pembelajaran selesai. Hal tersebut mengimplikasikan pada pembelajaran yang tercapai secara maksimal.

Dalam rangka menyumbang pemikiran untuk meningkatkan kemampuan mengenal bilangan pada anak usia dini, maka disampaikan saran bahwa permainan bowling sebaiknya dapat diterapkan dalam proses pembelajaran pengenalan bilangan pada anak usai dini karena telah terbukti dapat meningkatkan kemampuan mengenal bilangan dan untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi dalam mengembangkan penelitian tentang peningkatan kemampuan mengenal dan memahami konsep bilangan pada anak usia dini.

PENULIS: SUSILOWATI,S.Pd_TK ISLAM ADDASUQI Desa Liprak Kulon, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten probolinggo

DAFTAR PUSTAKA

  • Brown, Cecelia. M., & Murphy T. J. (2000). Research in undergraduate mathematics education. Reference Services Review, 28 (1), 65-80. Diperoleh pada 23 Juli 2013, dari http://www.emerald- library.com.
  • Ramscar M. D. M., Popick H. M., O’Donnell-McCarthy. (2011). The Enigma of Number: Why Children Find the Meanings of Even Small Number Words Hard to Learn and How We Can Help Them Do Better. ProQuest Agriculture Journals. 6 (7). Diperoleh pada 4 Januari 2014, dari http://search.proquest.com/docview/1306225735?accountid=62693.
  • Kayvan, U. (2009). 57 Permainan Kreatif untuk Mencerdaskan Anak. Jakarta: Mediakita. Musfiroh, T. (2005). Bermain sambil Belajar dan Mengasah 7 Kecerdasan. Jakarta: Depdiknas Paizaluddin & Ermalinda. (2013).  Peneitian  Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Bandung: Alfabeta.
  • Santosa, S. (2011). Penelitian Pendidikan. Surakarta: UNS Press

Related posts